Jumat, 30 September 2016

SILSILAH SULTAN BANTEN

SYARIF HIDAYATULLAH - SUNAN GUNUNG JATI Berputera :
1. Ratu Ayu Pembayun.
4. Maulana Hasanuddin
2. Pangeran Pasarean
5. Pangeran Bratakelana
3. Pangeran Jaya Lelana
6. Ratu Wianon

7. Pangeran Turusmi
PANGERAN HASANUDDIN - PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552-1570) Berputera :
1. Ratu Pembayu
8. Ratu Keben
2. Pangeran Yusuf
9. Ratu Terpenter
3. Pangeran Arya Japara
10. Ratu Biru
4. Pangeran Suniararas
11. Ratu Ayu Arsanengah
5. Pangeran Pajajara
12. Pangeran Pajajaran Wado
6. Pangeran Pringgalaya
13. Tumenggung Wilatikta
7. Pangeran Sabrang LorPangeran
14. Ratu Ayu Kamudarage

15. Pangeran Sabrang Wetan
MAULANA YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570-1580) Berputra :
1. Pangeran Arya Upapati
8. Ratu Rangga
2. Pangeran Arya Adikara
9. Ratu Ayu Wiyos
3. Pangeran Arya Mandalika
10. Ratu Manis
4. Pangeran Arya Ranamanggala
11. Pangeran Manduraraja
5. Pangeran Arya Seminingrat
12. Pangeran widara
6. Ratu Demang
13. Ratu Belimbing
7. Ratu Pecatanda
14. Maulana Muhammad
MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596) Berputra :
1. Pangeran Abdul Kadir

SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD 'ABDUL KADIR KENARI (15961651) Berputra:
1. Sultan 'Abdul Maali Ahmad Kenari (Putra Mahkota)
19. Pangeran Arya Wirasuta
2. Ratu Dewi
20. Ratu Gading20.
3. Ratu Ayu
21. Ratu Pandan
4. Pangeran Arya Banten
22. Pangeran Wirasmara
5. Ratu Mirah
23. Ratu Sandi
6. Pangeran Sudamanggala
24. Pangeran Arya Jayaningrat
7. Pangeran Ranamanggala
25. Ratu Citra
8. Ratu Belimbing
26. Pangeran Arya Adiwangsa
9. Ratu Gedong
27. Pangeran Arya Sutakusuma
10. Pangeran Arya Maduraja
28. Pangeran Arya Jayasantika
11. Pangeran Kidul
29. Ratu Hafsah
12. Ratu Dalem
30. Ratu Pojok
13. Ratu Lor
31. Ratu Pacar
14. Pangeran Seminingrat
32. Ratu Bangsal
15. Ratu Kidul
33. Ratu Salamah
16. Pangeran Arya Wiratmaka
34. Ratu Ratmala
17. Pangeran Arya Danuwangsa
35. Ratu Hasanah
18. Pangeran Arya Prabangsa
36. Ratu Husaerah

37. Ratu Kelumpuk

38. Ratu Jiput

39. Ratu Wuragil
PUTRA MAHKOTA SULTAN 'ABDUL MA'ALI AHMAD, Berputera:
1. Abul Fath Abdul Fattah
8. Pangeran Arya Kidul
2. Ratu Panenggak
9. Ratu Tinumpuk
3. Ratu Nengah
10. Ratu Inten
4. Pangeran Arya Elor
11. Pangeran Arya Dipanegara
5. Ratu Wijil
12. Pangeran Arya Ardikusuma
6. Ratu Puspita
13. Pangeran Arya Kulon
7. Pangeran Arya Ewaraja
14. Pangeran Arya Wetan

15. Ratu Ayu Ingalengkadipura
SULTAN AGENG TIRTAYASA -'ABUL FATH 'ABDUL FATTAH (1651-1672) Berputra :
1. Sultan Haji
16. Tubagus Muhammad 'Athif
2. Pangeran Arya 'abdul 'Alim
17. Tubagus Abdul
3. Pangeran Arya Ingayudadipura
18. Ratu Raja Mirah
4. Pangeran Arya Purbaya
19. Ratu Ayu
5. Pangeran Sugiri
20. Ratu Kidul
6. Tubagus Rajasuta
21. Ratu Marta
7. Tubagus Rajaputra
22. Ratu Adi
8. Tubagus Husaen
23. Ratu Ummu
9. Raden Mandaraka
24. Ratu Hadijah
10. Raden Saleh
25. Ratu Habibah
11. Raden Rum
26. Ratu Fatimah
12. Raden Mesir
27. Ratu Asyiqoh
13. Raden Muhammad
28. Ratu Nasibah
14. Raden Muhsin
29. Tubagus Kulon
15. Tubagus Wetan

SULTAN ABU NASR ABDUL KAHHAR - SULTAN HAJI (1672-1687) Berputra :
1. Sultan Abdul Fadhl
6. Ratu Muhammad Alim
2. Sultan Abul Mahasin
7. Ratu Rohimah
3. Pangeran Muhammad Thahir
8. Ratu Hamimah
4. Pangeran Fadhludin
9. Pangeran Ksatrian
5. Pangeran Ja'farrudin
10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)
SULTAN ABUDUL FADHL (1687-1690) Berputra :
- Tidak Memiliki Putera

SULTAN ABUL MAHASIN ZAINUL ABIDIN(1690-1733 ) Berputra :
1. Sultan Muhammad Syifa
31. Raden Putera
2. Sultan Muhammad Wasi'
32. Ratu Halimah
3. Pangeran Yusuf
33. Tubagus Sahib
4. Pangeran Muhammad Shaleh
34. Ratu Sa'idah
5. Ratu Samiyah
35. Ratu Satijah
6. Ratu Komariyah
36. Ratu 'Adawiyah
7. Pangeran Tumenggung
37. Tubagus Syarifuddin
8. Pangeran Ardikusuma
38. Ratu 'Afiyah Ratnaningrat
9. Pangeran Anom Mohammad Nuh
39. Tubagus Jamil
10. Ratu Fatimah Putra
40. Tubagus Sa'jan
11. Ratu Badriyah
41. Tubagus Haji
12. Pangeran Manduranagara
42. Ratu Thoyibah
13. Pangeran Jaya Sentika
43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat
14. Ratu Jabariyah
44. Pangeran Rajaningrat
15. Pangeran Abu Hassan
45. Tubagus Jahidi
16. Pangeran Dipati Banten
46. Tubagus Abdul Aziz
17. Pangeran Ariya
47. Pangeran Rajasantika
18. Raden Nasut
48. Tubagus Kalamudin
19. Raden Maksaruddin
49. Ratu SIti Sa'ban Kusumaningrat
20. Pangeran Dipakusuma
50. Tubagus Abunasir
21. Ratu Afifah
51. Raden Darmakusuma
22. Ratu Siti Adirah
52. Raden Hamid
23. Ratu Safiqoh
53. Ratu Sifah
24. Tubagus Wirakusuma
54. Ratu Minah
25. Tubagus Abdurrahman
55. Ratu 'Azizah
26. Tubagus Mahaim
56. Ratu Sehah
27. Raden Rauf
57. Ratu Suba/Ruba
28. Tubagus Abdul Jalal
58. Tubagus Muhammad Said (Pg. Natabaya)
29. Ratu Hayati

30. Ratu Muhibbah

SULTAN MUHAMMAD SYIFA' ZAINUL ARIFIN (1733 - 1750) Berputra :
1.Sultan Muhammad 'Arif
7. Ratu Sa'diyah
2. Ratu Ayu
8. Ratu Halimah
3. Tubagus Hasannudin
9. Tubagus Abu Khaer
4. Raden Raja Pangeran Rajasantika
10. Ratu Hayati
5. Pangeran Muhammad Rajasantika
11. Tubagus Muhammad Shaleh
6. Ratu 'Afiyah

SULTAN SYARIFUDDIN ARTU WAKIL (1750 - 1752 )
- Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD WASI' ZAINUL 'ALIMIN (1752-1753)
- Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD 'ARIF ZAINUL ASYIKIN (1753-1773) Berputra :
1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
4. Pangeran Suralaya
2. Sultan Muhyiddin Zainusholiohin
5. Pangeran Suramanggala
3 . Pangeran Manggala

SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN (1773-1799) Berputra :
1. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
5. Pangeran Musa
2. Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)
6. Pangeran Yali
3. Pangeran Darma
7. Pangeran Ahmad
4. Pangeran Muhammad Abbas

SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSHOLIHIN (1799-1801) Berputra :
1. Sultan Muhammad Shafiuddin

Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) (1803-1808)
Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

KESULTANAN BANTEN

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Anak dari Sunan Gunung Jati ( Hasanudin ) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara. Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

 Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. 

 Daftar pemimpin Kesultanan Banten  Sunan Gunung Jati  Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570  Maulana Yusuf 1570 - 1580  Maulana Muhammad 1585 - 1590  Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640  Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 - 1650  Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680  Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687  Sultan Yahya 1687 - 1690  Sultan Zainul Abidin 1690 - 1733  Sultan Arifin 1733–1748  Halimin  Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777  

Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn. Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi. Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor. 

Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang). Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu. 

Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah. Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam. 

Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat. Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. 

Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. 

Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa. Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur. 

Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di Pulau Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam. Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah. 

Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya. Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayat adalah dalam riwayat jatuhnya ibukota Pakuan 1568 hanya setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). 

Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang. Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal Penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar. Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan. 

Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan. Terlepas dari benar-tidaknya pendapat kaum sufi di tanah air, sejarah telah membuktikan karakter yang sangat istimewa dari Syarif Hidayatullah baik dalam kapasitas sebagai Ulama, Ahli Strategi Perang, Diplomat ulung dan Negarawan yang bijak. 

Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji. Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Mawlana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah. 

 Sultan Ageng Tirtayasa 

 Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1692) adalah putra Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten. 

 Riwayat Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 - 1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan. 

Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.

Rabu, 28 September 2016

MOS, Momentum Menumbuhkan Sikap Positif Siswa

MOS, Momentum Menumbuhkan Sikap Positif Siswa Nurul Lathiffah ; Peminat Kajian Psikologi Pendidikan MEDIA INDONESIA, 04 Juli 2016 MENJELANG bergulirnya tahun ajaran baru 2016/2017, dunia pendidikan mendapat angin segar dengan terbitnya regulasi baru mengenai masa orientasi siswa (MOS). Jika sejak dulu MOS identik dengan perpeloncoan yang mengandung muatan bullying, kekerasan fisik, ancaman, hukuman (punishment), dan hal tak nyaman lainnya, kini pengenalan terhadap sekolah baru harus dilaksanakan secara humanis. Kabar baik ini memberikan kelegaan bagi siswa, guru, dan para orangtua. Sebab, orientasi siswa yang mengeliminasi rasa takut siswa akan memberikan rasa aman. Bahkan, kebijakan ini dapat menutup buku catatan merah atas sederetan siswa baru yang menjadi korban dari `keganasan' MOS yang dilakukan senior atau orang lain di sekolah. Harus diakui bahwa banyak siswa merasa keberatan dengan MOS konvensional yang padat dengan sejumlah tugas berat. Siswa baru yang semestinya beradaptasi dengan lingkungan belajar baru dan menemukan motivasi untuk melejitkan prestasi justru mendapat kesibukan yang pelik. Di antara penugasan klasik MOS yang (sejak dulu) penting untuk dihapus, misalnya, mengumpulkan ratusan merica dan mencari bahan-bahan yang `langka'. Jika siswa tak berhasil menemukannya, hukuman pun siap menanti. Di sisi lain, para senior juga seolah menjadi sosok otoriter. Sayangnya, kultur negatif saat MOS seolah dimafhumi. Terkecuali siswa baru, banyak pihak abai terhadap MOS yang `menyiksa'. Konsekuensi logisnya, suburlah budaya MOS yang sarat dengan kekerasan, baik verbal, fisik, ataupun mental. Padahal, dampak MOS yang penuh nuansa kecemasan sangat signifikan. Dalam jangka pendek, siswa baru akan mendapat hambatan penyesuaian diri dan mengalami perasaan bersalah. Hal ini wajar sebab filosofi MOS yang banyak dianut sekolah ialah `menempa mental'. Sayangnya, penempaan mental dimaknai dengan sangat sempit, yakni dengan tindakan memarahi, menghukum, dan menyalahkan. Dalam perspektif psikologi, sikap memarahi, menghukum, dan menyalahkan dapat menjadi sumber petaka bagi orang lain. Seseorang yang dihukum, dimarahi, dan disalahkan akan rentan memiliki perasaan bersalah yang luar biasa. Bahkan, kemarahan yang secara repetitif dapat menurunkan kepercayaan diri dan motivasi. Kemarahan akan menimbulkan luka. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa energi negatif pada MOS yang konvensional harus diubah menjadi energi positif. Alih-alih memberikan rasa sakit kepada siswa baru, MOS idealnya dapat menjadi penyembuh. Penyembuh bagi siswa atas derita emosi, mental, dan perilaku. Poin pentingnya ialah tidak semua siswa masuk ke sekolah baru dalam keadaan baik-baik saja. Bisa saja, mereka anak yang lahir dari keluarga bermasalah dan tak memiliki gairah menuntut ilmu, kecuali demi formalitas belaka. Jika guru dan pengambil kebijakan di sekolah abai terhadap kondisi awal siswa baru, jangan heran jika di kemudian hari mereka menjadi sumber masalah di sekolah. Sebab, anak-anak dengan permasalahan intrapersonal yang tak selesai cenderung mela hirkan hubungan interpersonal yang buruk dengan orang lain. Pada titik inilah, MOS semestinya diselenggarakan dalam kerangka pengenalan dalam arti yang sebenarnya. Dalam kegiatan orientasi siswa, pendekatan dari hati ke hati sangat diperlukan. Guru diharapkan memiliki kepekaan dan mampu menjalin kedekatan dengan siswa baru sehingga ketika dalam masa orientasi siswa ada beberapa anak didik yang belum bisa mengikuti peraturan dan ritme kegiatan, guru mesti lebih awas. Di masa orientasi, guru perlu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan pendekatan terhadap siswa, memperkenalkan kultur belajar, dan yang paling penting menyuntikkan semangat baru. Sekolah baru semestinya dapat menghadirkan iklim belajar yang lebih positif. MOS harus diubah, dari gaya konvensional menuju profesional. Sejak awal, guru perlu membangun nuansa kenyamanan. Dengan demikian, hambatan psikologis siswa dalam beradaptasi dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan budaya belajar dapat berjalan dengan optimal. Ibarat membuka lembaran baru, para guru mesti mempersiapkan diri untuk menyambut siswa. Terlebih dahulu, guru perlu membangun kesiapan mental. Mereka harus meyakini akan kemampuan dalam mengajar dan mendidik siswa dengan baik. Di sisi lain, siswa juga perlu membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru tanpa dihantui rasa takut. Dalam mengenali siswa, ada baiknya guru juga memetakan potensi siswa. Tantangan selanjutnya ialah mampukah guru bersikap apresiatif atas prestasi siswa? Di sisi lain, bukan hal yang mudah mendeteksi potensi siswa dengan prestasi yang belum tampak. Upaya ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sepanjang rentang waktu belajar, guru perlu cermat memperhatikan siswa. Meski demikian, satu hal yang harus diingat ialah setiap anak memiliki perbedaan individual yang unik sehingga guru tidak perlu membandingkan siswa satu dengan siswa lainnya. Kepercayaan dari pendidik bahwa semua siswa memiliki potensi dan dapat berprestasi dengan cara masing-masing merupakan starting point yang ideal untuk memulai tahun ajaran baru. Tidak hanya kepada siswa, alangkah baiknya jika masa orientasi juga diikuti dengan pengenalan orangtua terhadap sekolah, guru, dan kultur belajar. Hal ini penting, sebab hubungan yang harmonis antara guru dan orangtua akan berdampak pada pengajaranpengasuhan yang seirama. Keberhasilan guru dalam menjalin kedekatan dengan siswa (sekaligus orangtua) di masa-masa awal tahun ajaran sangatlah penting. Sebab, suatu ketika jika anak mengalami permasalahan perilaku, keluarga menjadi partner bagi sekolah untuk mendukung penyelesaian masalah. Betapa banyak kasus kenakalan siswa yang tak terpecahkan karena kegagalan komunikasi. Alhasil, siswa yang dinilai nakal pun semakin tidak menyadari kesalahannya, bahkan semakin berada dalam taraf keparahan yang serius. Padahal, penanganan terha dap anak-anak bermasalah hanya akan efektif jika sekolah akrab menjalin kerja sama dengan orangtua. Sekolah sangat perlu membangun kedekatan dengan siswa, sebagaimana orangtua menjalin kedekatan dengan anak kandungnya. Sebab, transformasi nilai-nilai kebajikan hanya akan efektif apabila dilakukan figur otoritas. Nah, dalam masa orientasi siswa, sekolah harus berhasil membangun diri sebagai figur otoritas bagi para siswa. Kegagalan sekolah dalam mengenali siswa akan berdampak buruk pada proses belajar dan mengajar. Tidak sedikit guru yang ingin menyampaikan maksud baik justru ditanggapi negatif oleh siswa, demikian pula sebaliknya. Dalam jangka panjang, situasi itu dapat menyuburkan benih kebencian sehingga menyakitkan hubungan guru dengan siswa. Dunia pendidikan tak hanya memerlukan guru yang cerdas saja, tapi juga yang mau dan mampu memahami karakter siswa. Pemahaman yang baik terhadap karakter siswa dapat membimbing guru untuk dapat mengajar dan membimbing setiap siswa dengan metode yang paling tepat. Pada muaranya, MOS harus menjadi momentum untuk memulai hubungan yang harmonis antara siswa baru, kakak kelas, guru, dan lingkungan sekolah. Sebab, tugas kependidikan yang diemban guru dan siswa tidaklah mudah. Tugas kependidikan untuk mencerdaskan siswa dan membentuk karakter positif hanya akan berhasil jika guru dan siswa mampu mengenal dan menjalin hubungan yang produktif. Untuk menuju hal itu, aktivitas MOS yang tak berkaitan dengan tujuan utama harus ditiadakan, diganti dengan kegiatan positif yang memupuk motivasi belajar, berprestasi, dan bersikap secara positif. ●