Sabtu, 24 Desember 2011

Kebangkitan Islam: Belajar dari Sejarah Perang Salib


Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Katsir di atas, Umat Islam sebelumnya mengalami masa kegelapan atau periode terburuk dalam perjalanan sejarah umat manusia setelah mengalami kekalahan pada Perang Salib pertama. Titik balik kemudian diperoleh umat Islam setelah jatuhnya Edessa ke tangan umat Islam pada tahun 539 H/1144 M, yang saat itu dipimpin oleh Imam al-Din Zanki/Imaduddin Zengi, ayah dari Nur al-Din Zanki/Nuruddin Zanki yang merupakan paman dari Shalahuddin al-Ayyubi yang kemudian lebih dikenal sebagai pahlawan Islam pembebas Jerusalem pada tahun 1187.[1]
Perang Salib dimulai pada tahun 1095, dan pada tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan salib/Frank. Meskipun memiliki negara dan pemerintahan (kekhalifahan Abbashiyah), umat Islam saat itu sangat lemah dan terpuruk. Khalifah di Baghdad tidak mempunyai wibawa di mata rakyatnya, wilayah Islam terpecah-pecah dengan para panglima militer/atabegh sebagai para pemimpin pemerintahan di wilayah tersebut.

Sekitar 88 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1187, Jerusalem dapat dikuasai kembali oleh umat Islam yang dipimpin oleh Shalahudin al-Ayyubi. Akan tetapi jarang diketahui oleh umat Islam saat ini bahwa pembebasan Jerusalem/Al-Aqhsa, bukanlah produk instan dan keajaiban yang turun dari langit dalam waktu yang singkat. Dalam bidang politik dan militer, Imaduddin Zengi dan Nuruddin Zanki telah bersusah payah terlebih dahulu untuk membukakan jalan bagi Shalahudin. Di bidang spritual, dua ulama besar saat itu Imam Al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani, berusaha sangat keras memperbaiki akhlak dan moral masyarakat pada saat itu, sehingga kemudian muncul generasi baru yang hebat seperti Shalahudin al-Ayyubi dsb. Dalam hal ini, penulis akan lebih menitik beratkan pada hal spritual terlebih dahulu.

Seperti yang disampaikan oleh seorang ulama pada masa awal Perang Salib yang bernama al-Sulami, saat jatuhnya Jerusalem ke tangan pasukan Salib, menurutnya berjihad melawan orang-orang kafir adalah kepura-puraan bila tidak didahului dengan jihad yang lebih besar (al-jihad al-akbar) atas diri sendiri. Dalam hal ini, al-Sulami berpendapat hal pertama yang harus dilakukan oleh umat Islam sebelum ia melakukan jihad ialah memperkuat kembali dimensi moral untuk mengakhiri proses kemunduran spiritual umat Islam. Al-Sulami menegaskan bahwa jihad yang lebih besar tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu bila ingin meraih kemenangan dalam jihad melawan orang-orang kafir/tentara salib.

Dalam hal ini, al-Ghazali kemudian mencari faktor utama dari kelemahan umat Islam dan kemudian berusaha mengatasinya, daripada menyibukan diri dengan menuding dan menghujat para tentara salib. Menurutnya, masalah paling utama yang dihadapi oleh umat Islam pada saat itu ialah rusaknya pemikiran dan jiwa umat Islam yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan. Al-Ghazali tidak menolak adanya perubahan strategi di bidang politik dan militer, tetapi menurutnya perubahan yang paling mendasar harus didahului pada aspek pemikiran, akhlak, dan perubahan jiwa manusia itu sendiri.

Setelah melakukan perenungan yang sangat mendalam mengenai kondisi umat Islam pada saat itu, al-Gahzali sampai pada suatu kesimpulan bahwa yang pertama kali harus dibenahi dari umat Islam adalah masalah keilmuan dan keulamaan. Secara ringkas dapat kita pahami, setelah mengalami kekalahan di Perang Salib pertama kemudian kaum muslimin berhasil menggabungkan konsep Jihad al-Nafs dan jihad melawan musuh dalam bentuk peperangan dengan sangat baik. Dalam permasalahan jihad al-Ghazali menekankan akan pentingnya menyatukan berbagai potensi yang ada, baik harta, jiwa, dan juga keilmuan. Selain itu, al-Ghazali juga menekankan pentingnya aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar, aktivitas tersebut menurutnya merupakan kutub terbesar dalam urusan agama, dan merupakan suatu hal yang penting. Karena misi terbutlah Allah SWT mengutus para nabi. Jika aktivitas tersebut hilang maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar dan kebodohan akan merajalela, satu negeri akan binasa begitupula dengan umatnya secara keseluruhan.

Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara konperehensif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Saat itu, umat Islam dihadapi dengan berbagai masalah baik politik, keilmuan, moral, sosial dan sebagainya. Problematika tersebut perlu dianalisis dan didudukan secara adil dan proposional.

Al-ghazali dan para ulama pada masa itu, berusaha membenahi cara berpikir para ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi para ulama yang jahat. Sebab ilmu yang rusak dan ulama yang jahat adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya.

Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan oleh ulama-ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan akan selalu mendapatkan perlawanan yang kuat secara ilmiah. Karena itulah kerusakan dalam bidang keilmuan harus mendapat perhatian dari umat Islam.

Edessa-Rantau Jaya II
Akur Wijayadi

[1] Lihat Carole Hillenbrand, Perang Salib: Sudut Pandang Islam, Jakarta: Serambi, 2007.

Selasa, 16 Agustus 2011

66 Tahun Yang Lalu, Ramadhan Saat Itu....

Kurang lebih pukul 10.00 waktu setempat di halaman sebuah rumah yang sederhana namun asri, Ir. Soekarno didampingi oleh sahabatnya Drs. Mohammad Hatta, membacakan beberapa kalimat yang cukup singkat dan sederhana namun sangat bermakna bagi bangsa ini. Kedua orang tersebut mewakili seluruh rakyat Indonesia mengunggkapkan pada seluruh dunia bahwa Indonesia sudah merdeka lepas dari pendudukan bangsa asing.

Benar pada saat itu tanggal 17 Agustus tahun 1945, dengan persiapan yang sederhana dan seadanya, tiang bendera dari bambu, bendera merah-putih hasil jahitan tangan ibu Fatmawati, dikumandangkanlah proklamasi kemerdekaan RI. Dihadiri tidak lebih dari puluhan orang upacara tersebut berlangsung secara khidmad.

Mungkin jarang diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, bahwa pada hari itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kalau kita lihat tanggalan hijriah, tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1366 H. Hal ini memang jarang disebutkan dalam buku-buku mata pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah dengan berbagai macam alasan, akan tetapi kita beruntung saat ini banyak sejarawan yang berusaha mengungkapkan hal ini.
Mungkin benar bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang pernuh berkah dan rahmat. Seakan-akan Allah SWT ingin menjawab sekian lama doa dari masyarakat “pribumi” Indonesia, dengan memeberikan kemerdekaan pada bulan Ramadhan pada tahun 1945 tersebut.

Masyarakat Indonesia saat itu memang dikenal sangat religius, tidak mengherankan dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-2 disebutkan bahwa kemerdekaan bangsa ini merupakan hasil dari rahmat Allah SWT dan keinginan yang kuat dari bangsa ini untuk lepas dari penjajahan.

Bila kita renungkan secara mendalam, tanpa mengesampingkan perjuangan dari Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar dan para pahlawan yang telah berusaha melawan penjajahan melalui cara-cara fisik maupun peperangan, seakan-akan Allah SWT telah mempersiapkan kemerdekaan bangsa ini jauh-jauh hari sebelumnya. Bila saja perjuangan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar dsb tersebut berhasil mengusir penjajahan mungkin bangsa ini tidak akan pernah lahir atau mungkin setelah itu bangsa ini akan kembali dijajah karena belum siapnya bangsa ini menjadi suatu negara yang modern.

Dalam perjalanannya Allah SWT seakan-akan telah mempersiapkan sebuah Negara-bangsa yakni Indonesia menjadi suatu negara yang modern. Disaat kaum pribumi Indonesia masih terjerembab dalam kebodohan, dengan perantara pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang kemudian memberlakukan poltik etis atau balas budi dengan mendirikan berbagai macam sekolah seperti, Sekolah Angka Dua, MULO, ELS, STOVIA dan lain sebagainya, bahkan dalam perkembangan berikutnya banyak dari para penduduk pribumi yang kemudian bisa melanjutkan sekolahnya di universitas-universitas terkemuka di Belanda. Walaupun hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan pada saat itu, akan tetapi kemudian muncullah apa yang kemudian disebut sebagai golongan elit baru  yakni mereka yang mengenyam pendidikan model Barat. Dari mereka kemudian kita kenal berbagai tokoh dengan kepakaran ilmunya masing-masing seperti, Ir Soekarno yang ahli di bidang arsitektur, Hatta yang ahli Ekonomi, Cipto Mangunkusumo seorang dokter yang namanya sekarang digunakan sebagai nama rumah sakit terkemuka di Jakarta,  atau Mr. Soepomo seorang ahli tata negara dan merupakan guru besar di Belanda yang kemudian meletakan dasar-dasar negara ini, dan lain sebagainya.

Dari para elit baru inilah kemudian timbul suatu sikap kesadaran, kesadaran akan pemderitaan yang diakibatkan oleh penjajahan yang kemudian pada akhirnya memunculkan sikap nasionalisme. Kemudian para elit baru ini memperjuangkan kesadaran akan pentingnya Indonesia yang merdeka dengan berbagai cara dalam bermacam bidang seperti, politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Akan tetapi kesadaran nasionalisme mereka ternyata masih belum dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang belum mengenyam pendidikan. Nampaknya masih terdapat jarak antara para tokoh tersebut dengan sebagian besar rakyat pribumi, sehingga apa yang dicita-citakan oleh intelektual muda indonesia belum bisa dimengerti oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang masih tenggelam oleh kebodohan. Hal ini bisa dimengerti karena pemerintah kolonial Hindia-Belanda berusaha menjauhkan para pemimpin nasional dari rakyat dengan berbagai macam cara seperti pemenjaraan dan pengasingan ke luar pulau atau bahkan luar negeri.

Kemudian dengan kebesaran dan rahmat Allah SWT pulalah pada akhirnya nanti jarak antara para pemimpin nasional dan sebagian besar rakyat Indonesia dapat dipangkas habis. Allah SWT dengan perantara orang-orang Jepang ingin lebih mendekatkan para pemimpin nasional dengan rakyatnya. Setelah berhasil menguasai nusantara, Jepang segera melakukan berbagai macam kebijakan yang sedikit berbeda dengan pemerintah Hindia-Belanda. Jepang mempercayai kepemimpinan birokratis kepada para pemimpin nasional Indonesia seperti, Soekarno dan Hatta dalam Putera (Pusat Tenaga Rakyat), dalam bidang agama Jepang kemudian membentuk MIAI dengan KH. Wachid Hasyim sebagai ketuanya. Selain itu dengan dibentuknya badan-badan militer maupun semi-militer seperti PETA, Heiho dsb, kemudian semakin mendekatkan cita-cita kemerdekaan dengan rakyat Indonesia. Dengan adanya wajib militer oleh Jepang, para pemuda terpelajar dari kota dipertemukan dengan para pemuda yang berasal dari desa, seorang guru seperti Sudirman dipertemukan dengan para petani, para pemuda peranakan Cina dengan para santri dari pesantern, dengan hal inilah pada akhrinya cita-cita kemerdekaan dapat tersebar luas keseluruh Nusantara dan menjadi cita-cita bersama bangsa ini.
Dan sekali lagi Allah SWT memudahkan bangsa ini untuk memeproleh kemerdekaan. Setelah Jepang dikalahkan oleh sekutu dengan dijatuhkannya bom atom di kota Hirosima dan Nagasaki. Status kuo Hindia-Belanda segera dimanfaatkan oleh para pemuda Indonesia, diawali dengan peristiwa Rengasdengklok, pada akhirnya draff teks proklamasi dapat diselesaikan menjelang makan sahur, sehingga kemudian tepat pada hari Jum’at legi pada pukul 10.00 wib pada tanggal 17 Agustus 19945 atau 9 Ramadhan 1366 H, suatu Negara modern telah lahir yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bila kita perhatikan dengan seksama, Allah SWT tidak hanya memberikan keberkahan di bulan Ramadhan kepada bangsa ini dengan memerdekakannya pada tanggal 17 Agustus 1945 atau bulan ramadhan 66 tahun yang lalu, akan tetapi Allah SWT telah mempersiapkan lahirnya Negara Indonesia dengan melalui proses yang sangat panjang. Selain itu, Allah SWT juga memberikan modal bagi bangsa ini berupa kekayaan SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah, posisi yang strategis, keindahan alam, kebesaran sejarah masa lau, keanekaragaman budaya dsb, kepada bangsa ini, sehingga sudah sepantasnya kita sebagai warga Negara Indonesia khususnya kita sebagai umat Islam mengucapkan syukur atas rahmat dan keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada bangsa ini.

Pada akhirnya dengan bersamannya momentum hari kemerdekaan Indonesia pada saat ini dengan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan merupakan bulan dimana diturunkannya Al Qur’an, semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahannya kepada bangsa ini. Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepantasnya kita bekerja keras agar bangsa ini dapat segera bangkit, sudah terlalu lama ibu pertiwi sedih dan berduka lara, sekarang saatnya kita menghapus air mata tersebut dengan senyum penuh prestasi

16 Agustus 2011
Dari Rantau Jaya untukmu Negeriku
Akur Wijayadi

Rabu, 15 Juni 2011

Bangkit Untuk Impian

Pada saat naik tahta menggantikan ayahnya, usianya masih 12 tahun. Usia yang terbilang masih remaja atau malah kanak-kanak untuk ukuran seorang manusia yang mengemban suatu amanah yang maha berat, bayangkan ia harus memerintah suatu kesultanan(Penulis masih bingung dengan konsep khilafah sehingga penulis menganggap Turki Utsmani sama dengan kerajaan-kerajaan lainnya yang mewariskan tahtah berdasarkan garis keturunan. Selain itu dari beberapa literature yang pernah dibaca oleh penulis, penulis lebih sering menjumpai para pemimpin Turki Utsmani menggunakan gelar sultan dari pada khilafah) yang luasnya hampir duapertiga dunia. Hal ini menyebabkan keraguan di dalam maupun luar kesultanan. Para pemimpin Nasrani di Eropa sangat bersyukur karena dengan sultan yang masih anak-anak ini tentunya tidak ada ancaman dari kesultanan Turki Ustmani. Di dalam negeri para Wazir, Ulama sampai para rakyat pun sangat mengkhawatirkan kondisi kesultanan Turki Ustmani yang diperintah oleh seorang anak kecil.  Akan tetapi berbekal ilmu dan kedisiplinan tingkat tinggi dari sang guru Ahmad Gurani serta harapan kecil dari sang ayah Sultan Murad, sang Sultan kecil naik tahta dengan percaya diri dan tidak menggubris segala cemooh dari kebanyakan orang.
Melihat ada kesempatan emas di depan mata, para pemimpin Nasrani melanggar perjanjian genjatan senjata dan mulai menyerang kekuasaan Turki Ustmani. Pasukan Salib mulai bergerak, sehingga terjadilah peperangan di kota Varna. Disisi lain kondisi dalam negeri yang mulai kacau akibat masuknya sekte Syiah, pemberontakan yang terjadi di berbagai kota dan diperparah oleh pemberontakan yang dilakukan oleh pasukan Janisari(Pasukan Janisari ialah pasukan khusus/elit Kesultanan Turki Utsmani yang sebagian besar direkruk dari nak-anak beragama Nasrani yang kemudian di-Islamkan. Terkait pemberontakan Pasukan Janisari dikarenakan hasutan oleh sang Wazir yakni Halil Pasha yang melihat kelemahan yang ada pada diri Sultan) sudah cukup menjadi alas an bagi sultan Murad untuk mengambil alih kekuasaan dari tanggan sang anak dan mengasingkannya ke kota Manisa.
Kekalahan perang di Varna, pemberontakan-pemberontakan di dalam negeri, dan kemudian di asingkan dari pusat pemerintahan membuatnya sangat terpukul. Beruntung dia mempunyai guru sehebat Ahmad Gurani dan penasehat yang cerdas sekelas Shibabettin Pasha serta Zaganos Pasha. Sang Sultan Kecil perlahan namun pasti bangkit dari keterpurukannya, dengan dibantu oelh sang guru dan para penasehatnya, waktu Sembilan tahun tidak dibuang percuma olehnya melainkan digunakan untuk mengevaluasi diri dan belajar dan terus belajar. Sang Sultan kecil belajar banyak hal, mulai dari politik, adsminitrasi pemerintahan, geografi hingga sejarah dan biografi para kaisar-kaisar besar seperti Alexander Agung. Pada waktu inilah ia menenukan sebuah mimpi mengenai jatuhnya kerajaan Heraclius yakni penguasa konstatinopel pada masa Rosulullah SAW,   di sebutkan di dalamnya bahwa sebaik-baiknya pemimpin ialah pemimpin dari para pasukan yang merebut kota konstatinopel. Ia semakin bersemangat dalam belajar dan berharap ia yang berhasil mewujudkan mimpi Rosulullah tersebut. Semua pelajaran ia serap dengan begitu baik dan penuh kedisipilnan di bawah arahan sang guru. Ia yakin semua ilmu yang dipelajarinya akan bermanfaat suatu hari nanti, saat ia diberi kesempatan kedua untuk memimpin kembali Turki Utsmani sepeninggal ayahnya.
Pada tanggal 5 Februari 1451, ayahnya Sultan Murad meninggal. Secara otomatis ia naik tahta kembali sebagai Sultan Turki Ustmani. Setelah tujuh tahun menunggu dalam ketidak jelasan mengenai posisinya dan dalam bayang-bayang kegagalan sebelumnya, akhirnya kesempatan kedua tersebut datang juga pada hari itu. Ia bukan lagi si bocah berumur dua belas tahun yang tidak tahu harus berbuat apa, sekarang ia telah menjadi remaja berumur Sembilan belas tahun yang sudah dewasa melampaui umurnya pada saat itu. Memanfaatkan kesempatan kedua dan tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya, ia bergerak dengan cepat, pasti namun terarah untuk segera mewujudkan mimpinya tersebut, mimpi Rosulullah dan mimpi seluruh umat Islam. Dengan kedisiplinan tingkat tinggi ia rombak struktur birokrasi, ia bangun kekuatan perang paling dasyat dan menakutkan pada saat itu. Ia adaptasi ilmu perkapalan dan pembuatan meriam dari orang-orang Nasrani di Eropa sehingga nantinya ia memiliki armada laut dan arteleri darat paling besar pada zamannya. Ia lakukan beberapa inovasi setelah melakukan evaluasi beberapa penyerangan bangsa Arab sebelumnya yang selalu gagal terhadap Konstatinopel dan dengan inovasi inilah nantinya ia berhasil menaklukan kota tersebut. Dengan manajemen yang hebat ia dapat memaksimalkan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki oleh Turki Ustmani, sampai-sampai para sejarahwan Eropa memuji manajemen dari sang sultan yang begitu rapi tersebut. 
Pada akhirnya setelah persiapan yang memakan waktu hampir dua tahun, pada awal bulan Maret semua pasukan baik darat maupun laut diberangkatkan dengan tujuan satu merebut Konstantinopel. Dentuman meriam pertama tanggal 6 April 1453 menandakan dimulainya usaha untuk mewujudakan mimpi tersebut. Ia sedari awal sadar untuk mewujudkan mimpi tersebut tidak semudah membalikan telapak tangan, karena sebelumnya ia sudah  mempelajari kegaalan-kegagalan penyerangan sebelumnya yang terbentur oleh kokohnya benteng Konstantinopel. Setelah mengerahkan mesin perang yang begitu dasyat selama hampir dua bulan, pada akhirnya tepat pukul 06.00 waktu setempat tanggal 29 Mei 1453, Konstantinopel dapat ia kuasai sepenuhnya.
Tanggal 29 Mei 1453 menjadi hari istimewa bagi seluruh umat Islam pada saat itu terutama bagi sang sultan karena ia berhasil mewujudkan mimpi Rosulullah SAW. Tepat saat umurnya 21 tahun lebih 2 bulan, ia berhasil mewujudkan mimpi tujuh abad umat Islam setelah usaha pertama yang dilakukan oleh Bani Ummayah pada tahun 669 M. sultan yang kemudian kita kenal dengan nama Muhammad al Fatih tersebut berhasil bangkit dari keterpurukannya untuk dapat meraih sebuah impian, tidak saja imipian dari dirinya melainkan impian dari Rosulullah SAW dan bahkan seluruh umat Islam. Sultan Muhammad II berhasil memanfaatkan kesempatan kedua yang datang menghampirinya sehingga ia berubah dari seorang pesakitan menjadi pahlawan Umat Islam yang gemilang.
Sebagai seorang manusia yang tentunya pernah mengalami fase kegagalan dan kesuksesan di dalam hidup kita, sudah sewajarnya kita bisa belajar dari perjalanan hidup Muhammad al Fatih, yang ternyata juga pernah mengalami kegagalan di awal karirnya sebagai Sultan. Seperti ia yang tidak larut dalam meratapi kegagalannya dan terus berusaha dengan banyak-banyak belajar, kita juga harus seperti bliau yang yakin bahwa akan selalu ada kesempatan kedua, ketiga aatau keempat dan seterusnya, kita harus bisa memanfaatkan kesempatan yang dating kemudian dengan catatan kita sudah mengevaluasi kegagalan kita sebelumnya agar tidak terperosok pada jurang yang sama.
Sekarang semuanya pilihan ada pada diri kita, apakah akan menghabiskan sisa umur kita dengan meratapi sebuah kegagalah ataukah bangkit dengan berusaha untuk meraih kegemilangan sebuah impian. Seperti seorang bayi yang baru belajar jalan yang mengalami proses jatuh bangun, kehidupan kita juga demikian, kita tidak akan langsung memperoleh kesuksesan, di dalamnya pasti aka nada proses jatuh bangun. Pilihannya apakan kita akan menyerah hanya karena tersandung oleh sebuah kerikil, atau kita tetap fight dengan menyingkirkan kerikil2 yang ada.
Rabu, 15 Juni 2011
Varna-Manisa-Edirne-Konstantinopel-Rantau Jaya